Showing posts with label orang sukses tanpa sekolah. Show all posts
Showing posts with label orang sukses tanpa sekolah. Show all posts

Thursday, October 30, 2014

Siapa saja orang sukses tanpa ijazah sekolah tinggi di Indonesia & dunia?




Sekarang ini sedang ramai di bicarakan yaitu salah satu menteri Kabinet Kerja 2014-2019 di pemerintahan Jokowi – JK yaitu Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, banyak orang yang memandang sebelah mata karena beliau hanya lulusan SMP serta penampilan beliau yang tomboy, merokok dan bahkan tato yang ada di kaki beliau banyak  sekali di komentari baik oleh orang berpendidikan tinggi, tokoh agama maupun masyarakat luas, Jokowi tentu tidak main-main dalam memilih beliau karena percaya dapat bekerja dan sangat mengetahui kebutuhan nelayan dan kelautan RI.

Selain Susi Pudjiastuti, masih ada juga beberapa orang sukses di Indonesia yang tidak memiliki ijazah perguruan tinggi, bahkan ijazah SMP/SMA, berikut beberapa contohnya mungkin bisa member kita inspirasi, ijazah bukan suatu harga mati untuk sukses:


1. Bob Sadino

Bob Sadino
Bob Sadino lahir di Lampung, 9 Maret 1939 atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya.

Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. 

Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.

Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi kuli bangunan dengan upah harian Rp100.

Suatu hari, seorang teman menyarankan Bob memelihara dan berbisnis telur ayam negeri untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik dan mulai mengembangkan usaha peternakan ayam. Ketika itu, di Indonesia, ayam kampung masih mendominasi pasar. Bob-lah yang pertama kali memperkenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Bob menjual telur-telurnya dari pintu ke pintu. Ketika itu, telur ayam negeri belum populer di Indonesia sehingga barang dagangannya tersebut hanya dibeli oleh ekspatriat-ekspatriat yang tinggal di daerah Kemang, serta beberapa orang Indonesia yang pernah bekerja di luar negeri. Namun seiring berjalannya waktu, telur ayam negeri mulai dikenal sehingga bisnis Bob semakin berkembang. Bob kemudian melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Selain memperkenalkan telur ayam negeri, ia juga merupakan orang pertama yang menggunakan perladangan sayur sistem hidroponik di Indonesia.


2. Andrie Wongso


Andrie Wongso lahir Desember 1954. Ia terlahir dari sebuah keluarga miskin di kota Malang. Di usia 11 th (kelas 6 SD), terpaksa harus berhenti bersekolah karena sekolah mandarin tempat andrie kecil bersekolah ditutup. Maka SDTT, Sekolah Dasar Tidak Tamat, adalah gelar yang disandangnya saat ini. Masa kecil hingga remajanya pun kemudian dilalui dengan membantu orang tuanya membuat dan berkeliling berjualan kue ke toko-toko dan pasar. Andrie Wongso adalah motivator asal Indonesia, yang lebih dari 20 tahun berkiprah sebagai pengusaha sukses.
Kemauannya untuk berbagi semangat, pengalaman dan kebijaksanaan, dengan gaya bahasa yang sederhana tetapi full power kepada begitu banyak orang, membuat dirinya dinyatakan sebagai The Best Motivator Indonesia atau Motivator No. 1 Indonesia dari Kompas. Tetapi beliau lebih suka disebut "Sang Pembelajar".

3. Basrizal Koto

Basrizal Koto atau sering disebut Basko lahir di Kampung Ladang, Pariaman dari pasangan Ali Absyar dan Djaninar. Masa kecilnya sangatlah getir, dimana Basko sempat merasakan hanya makan sehari sekali, di mana untuk makan sehari-hari saja sang ibu harus meminjam beras ke tetangga.

Ayahnya hanyalah bekerja sebagai buruh tani yang mengolah gabah. Meski sempat bersekolah hingga kelas lima SD, Basko akhirnya berkesimpulan bahwa kemiskinan harus dilawan bukan untuk dinikmati. Atas seizin ibunya, diapun memilih pergi merantau ke Riau dibanding melanjutkan sekolah.Basko yang panjang akal dan visioner mengawali usahanya dengan berjualan pete.Kemahirannya berkomunikasi, membangun jaringan, menepati janji, dan menjaga kepercayaan akhirnya membawanya sukses menaklukan kemiskinan, membangun kerajaan bisnis, dan menciptakan lapangan kerja.

Jumlah perusahaan yang dikelolanya kini mencapai 15 perusahaan dan sejak 2006 dia juga terjun ke bisnis penambangan batu bara di Riau, menyediakan jasa TV kabel dan Internet di Sumatra.Beberapa perusahaan yang masuk dalam MCB Group miliknya adalah PT Basko Minang Plaza (pusat belanja), PT Cerya Riau Mandiri Printing (percetakan), PT Cerya Zico Utama (properti), PT Bastara Jaya Muda (tambang batubara), PT Best Western Hotel (Hotel Basko), dll. Proyek terakhir yang tengah digarapnya adalah pendirian Best Western Hotel dengan 198 kamar. Sebuah hotel bintang empat plus yang tengah di bangun di Padang, Sumatra Barat.


4. Eka Tjipta Widjaja
Eka Tjipta
Eka Tjipta Widjaja adalah orang Indonesia yang awalnya lahir di Cina. Beliau lahir di Coana Ciu, Fujian, Cina dan mempunyai nama Oei Ek Tjhong. Ia lahir pada tanggal 3 Oktober 1923 dan beliau merupakan pendiri dan pemilik Sinar Mas Group. Ia pindah ke Indonesia saat umurnya masih sangat muda yaitu umur 9 tahun. Tepatnya pada tahun 1932, Eka Tjipta Widjaya yang saat itu masih dipanggil Oei Ek Tjhong akhirnya pindah ke kota Makassar. Di Indonesia, Eka hanya mampu tamat sekolah dasar atau SD. Hal ini dikarenakan kondisi ekonominya yang serba kekurangan. Untuk bisa pindah ke Indonesia saja, ia dan keluarganya harus berhutang ke rentenir dan dengan bunga yang tidak sedikit.
Eka Tjipta Widjaja bukanlah seorang sarjana, doktor, maupun gelar-gelar yang lain yang disandang para mahasiswa ketika mereka berhasil menamatkan studi. Namun beliau hanya lulus dari sebuah sekolah dasar di Makassar. Hal ini dikarenakan kehidupannya yang serba kekurangan. Ia harus merelakan pendidikannya demi untuk membantu orang tua dalam menyelesaikan hutangnya ke rentenir. Saat baru pindah ke Makassar, Eka Tjipta Widjaja memang mempunyai hutang kepada seorang rentenir dan setiap bulan dia harus mencicil hutangnya tersebut.

Eka Tjipta Widjaja mempunyai keluarga yang selalu mendukungnya dalam hal bisnis dan kehidupannya. Beliau menikah dengan seorang wanita bernama Melfie Pirieh Widjaja dan mempunyai 7 orang anak. Anak-anaknya adalah Nanny Widjaja, Lanny Widjaja, Jimmy Widjaja, Fenny Widjaja, Inneke Widjaja, Chenny Widjaja, dan Meilay Widjaja. Eka Tjipta Widjaja dikenal sebagai orang yang banyak mempunyai istri atau poligami.

Dalam hal bisnis, Eka Tjipta Widjaja merupakan seorang yang unggul dalam mengembangkan bisnis yang telah dia rintis. Ini terbukti dengan hasil karyanya dalam membangun bisnis di Indonesia ini. Ia sudah menekuni dunia bisnis sejak dia masih berumur sangat muda yaitu umur 15 tahun. Ia mengawali karir bisnisnya itu hanya dengan bermodalkan sebuah ijasah SD yang dimilikinya. Dia berjualan gula dan biskuit dengan cara membelinya secara grosir kemudian dia jajakan secara eceran dan hal tersebut bisa mendapatkan untung yang lumayan.

Namun bisnisnya itu tak bertahan lama karena adanya pajak yang besar pada saat itu karena Jepang menjajah Indonesia. Pada tahun 1980, ia memutuskan untuk melanjutkan usahanya yaitu menjadi seorang entrepreneur seperti masa mudanya dulu. Ia membeli sebidang perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan 10 ribu hektar yang berlokasi di Riau. Tak tanggung-tanggung, beliau juga membeli mesin dan pabrik yang bisa memuat hingga 60 ribu ton kelapa sawit.

Bisnis yang dia bangun berkembang sangat pesat dan dia memutuskan untuk menambah bisnisnya. Pada tahun 1981 beliau membeli perkebunan sekaligus pabrik teh dengan luas mencapai 1000 hektar dan pabriknya mempunyai kapasitas 20 ribu ton teh. Selain berbisnis di bidang kelapa sawit dan teh, Eka Tjipta Widjaja juga mulai merintis bisnis bank. Ia membeli Bank Internasional Indonesia dengan asset mencapai 13 milyar rupiah. Namun setelah beliau kelola, bank tersebut menjadi besar dan memiliki 40 cabang dan cabang pembantu yang dulunya hanya 2 cabang dan asetnya kini mencapai 9,2 trilliun rupiah. Bisnis yang semakin banyak membuat Eka Tjipta Widjaja menjadi semakin sibuk dan kaya. Ia juga mulai merambah ke bisnis kertas. Hal ini dibuktikan dengan dibelinya PT Indah Kiat yang bisa memproduksi hingga 700 ribu pulp per tahun dan bisa memproduksi kertas hingga 650 ribu per tahun. Pemilik Sinarmas Group ini juga membangun ITC Mangga Dua dan Green View apartemen yang berada di Roxy, dan tak ketinggalan pula ia bangun Ambassador di Kuningan.

5. Soedono Salim
Soedono Salim & Soeharto
Soedono Salim atau Liem Sioe Liong adalah termasuk orang Tionghoa asli (bukan peranakan) dimana ia dilahirkan di Fukien, Tiongkok pada tanggal 19 Juli 1916. Ia memiliki saudara tua bernama Liem Sioe Hie dimana pada 1922 telah berimigrasi ke Indonesia. Ketika itu negara Tiongkok sangatlah miskin dan mereka banyak yang berimigrasi ke negara Asia Tenggara khususnya Malaysia dan Indonesia untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Akan tetapi proses imigrasinya tidaklah semudah saat ini. Mereka harus naik kapal layar dimana waktu tempuhnya hingga 1 bulan bahkan tak sedikit yang harus kehilangan nyawa sebelum sampai Indonesia karena diterjang badai besar. Maka dari itu hingga ada lagu yang berbunyi “Nenek moyangku seorang pelaut”.

Kembali lagi ke cerita Liem Sioe Liong. Kakaknya yang telah berimigrasi ke Indonesia kemudian menempati Kudus. Kakaknya sering mengirim kabar bahwa Asia Tenggara khususnya Indonesia adalah gudang harta karun kerajaan-kerajaan Eropa sehingga sangat menjanjikan untuk hidup lebih baik disini ketimbang tetap di Tiongkok. Apalagi saat itu ada kabar bahwa Jepang akan menyerang Cina.

Dengan tekad baja, Liem Sioe Liong kecil menyusul kakaknya di Kudus. Ia berangkat dengan menumpang kapal Belanda yang akan ke Indonesia. Liem menginjakkan kaki di Indonesia sebulan kemudian jadi ia terombang ambing di lautan selama sebulan. Kudus saat itu terkenal sebagai kota penghasil rokok sehingga sering membutuhkan tembakau dan cengkeh dalam jumlah sangat banyak.

Liem melihat peluang ini dan menawarkan diri untuk menyuplai kebutuhan cengkeh tersebut. Liem sangat terlatih akan pekerjaan itu yaitu sebagai supplier cengkeh bahan baku rokok. Liem pun sering mencari jalan belakang agar keuntungan yang didapat berlipat yaitu menyelundupkannya lewat jalur Maluku, Sumatra, Sulawesi Utara, Singapura dan akhirnya Kudus. Liem mendapatkan untung besar sekali dari cengkeh. Ia kemudian merambah bisnis tekstil. Ia membeli tekstil murah dari Shanghai dan menjualnya kembali di Indonesia. Liem memang terkenal piawai mencari sumber dagangan murah.

Ketika tinggal di Kudus, Liem jatuh cinta pada seorang wanita asal Lasem. Wanita itu temasuk keturunan orang berada terbukti si wanita tersebut bersekolah di Sekolah Belanda Tionghoa. Liem pun mengajukan lamaran tetapi sang ayah tak setuju karena takut jika anak perempuannya akan dibawa ke Tiongkok. Liem punmeyakinkan bahwa itu tidak akan terjadi. Sang ayah pun akhirnya setuju dan mereka akhirnya menikah. Acara pernikahannya digelar sangat meriah hingga menghabiskan 12 hari. Untuk menjaga kepercayaan mertua, Liem pun semakin giat bekerja. Usahanya semakin maju.

Ketika Jepang menjajah Indonesia tahun 1944, usaha Liem mengalami kemunduran hingga akhirnya bangkrut. Selain itu Liem juga mengalami musibah yang lain yaitu kecelakaan mobil. Mobil Liem masuk jurang yang membuat seluruh penumpang tewas kecuali Liem. Namun Liem harus merasakan koma selama 2 hari.
Setelah kondisi fisiknya pulih dan kondisi politik serta keamanan negara terkendali, Liem memutuskan untuk memboyong keluarganya ke Jakarta. Ia pun mulai membangun kembali bisnisnya.

Ketika era Soeharto, Liem adalah salah satu orang terdekatnya sehingga sering mendapat kemudahan dalam hal bisnis. Ketika itu dikenal istilah The Gang of Four yaitu empat orang pengusaha yang selalu kompak diantaranya yaitu Soedono Salim, Sudwikatmono, Djuhar Susanto dan Ibrahim Risjad. Mereka kemudian mendirikan CV Waringin Kentjana dimana Liem Sioe Liong sebagai chairman dan Sudwikatmono sebagai CEO nya.
Empat orang ini kemudian mendirikan pabrik tepung terigu terbesar di INdonesia yaitu PT Bogasari dimana dananya didapat dari pinjaman pemerintah. Bogasari adalah perusahaan swasta, bukan BUMN namun Bogasari mendapatkan fasilitas melebihi perusahaan BUMN seperti punya pelabuhan sendiri dimana kapal-kapal yang mengangkut atau ada hubungannya dengan terigu bisa langsung merapat ke pabrik. Dengan kemudahan dari pemerintah seperti ini, Bogasari bisa memonopoli kebutuhan terigu di tanah air. 
 
Merk Indofood, siapa yang tidak kenal?